Mimpi..

Mimpi. Yang selalu membuat aku tak mau dibangunkan dari tidur.. yang selalu membuat aku ingin lari dari kehidupan nyataku yang pahit. Dan yang selalu membuatku sadar, bahwa itu HANYA MIMPI..

Monday, October 6, 2014

Curhatan Kilat #1

Dan ketika semuanya hancur. Semuanya hilang. Dan semuanya telah tiada, aku tersungkur..aku jatuh..aku menangis…aku mulai lemah…aku tak kuat menahan semua yang aku derita hanya seorang diri.  Orang-orang yang berada di dekatku hanya berkata.. “Kamu harus rela dengan semuanya..dengan semua apa yang sudah terjadi pada dirimu sendiri." aku saja tetap bingung. Harus rela dengan apa yang sudah terjadi kepada diriku, atau menyesalinya...yah aku serahkan semuanya kepada takdir.

Sunday, January 26, 2014

KASIH DAN HUJAN



“Tepat pukul 04:00 sore, dimana kebiasaan rutin Qave setiap hari Minggu duduk di teras rumah dengan memakai kaus lengan sebahu berwarna kuning dengan celana pendeknya, sambil berpandangan kosong. Hari ini tidak seperti hari-hari biasanya, yang setiap kalinya Qave selalu ditemani secangkir teh dan dua potong roti, melainkan hanya dengan setangkai bunga, yang baru saja ia ambil dari rumah tetangga. Lamunannya tersentak ketika Qave merasakan ada suatu benda yang sangat lembut menyentuh hidungnya. Ya, itu adalah tetesan air dari ‘air conditioner’. Lalu ia segera menghapusnya dengan menggunakan jari-jarinya saja.”


∞∞∞∞


Keesokan harinya, sekitar pukul tujuh pagi, Qave bangun untuk memulai aktivitasnya disaat libur tiba. Seperti biasa, Qave mandi, sarapan, lalu membereskan rumah. Selanjutnya Qave meluangkan waktu untuk membaca buku Encyclopedia, novel, dan buku-buku ekonomi dan bahkan buku yang mengenai politik. Ketika ia sedang sarapan bersama keluarganya di ruang makan, tepat pada pukul 08:00 pagi ibu Qave berbicara mengenai sekolahnya yang baru. Ya, besok adalah hari pertamanya memasuki sekolah baru di Padang. “Bagaimana persiapanmu untuk besok Ve?” Tanya ibunya. “Aku tidak tahu bu, tapi aku akan berusaha untuk sesiap mungkin.”


“Jawabanmu meragukan Ve, jangan jawab seperti itu. Ibu tidak suka. Ini semua permintaanmu ibu tidak mau mengikut campuri urusanmu lagi. Ibu selalu salah di mata Qave.”


Mendengar ibu berbicara seperti itu, benar-benar menyihir rasa lapar Qave menjadi kenyang. Qave tidak menjawab ucapan ibunya. Qave hanya meletakkan makanannya kembali ke piring, lalu beranjak dari ruang makan ke kamar.






∞∞∞∞


Di dalam kamar, Qave hanya menatapi buku-buku pelajarannya. Qave sama sekali tidak memiliki gairah untuk beraktivitas seperti biasanya. Duduk termangu dalam lamunannya kembali. Memikirkan masa lalunya, yang seharusnya tidak usah diingat kembali. Entah mengapa, setiap kali ia mengingatnya, rasanya ada sedikit keganjalan di hati Qave.


Sore sudah tiba, Qave berjalan menuju pantai, diantar oleh tetangganya yang kebetulan memasuki sekolah yang sama dengannya. Sylfya namanya, ia blasteran dari Belanda dan Indonesia. Orangnya cantik, berambut panjang, berkulit mulus dan putih. Suaranya pun sangat lembut. Rasanya, laki-laki manapun pasti akan jatuh cinta padanya. Tidak mungkin tidak.


Sesampainya di pantai, ia duduk berdua dengan Silvi di atas pasir putih yang bersih. Mereka duduk berdua, sambil menikmati angin yang ditimbulkan oleh ombak laut serta mendengarkan alunan ombak yang menurut Qave sangat bagus untuk menenangkan hati seseorang.


“Kamu asli mana? Namamu juga siapa? Kita belum berkenalan loh.” Ucap Sylfya memulai percakapan.


“Namaku Kivaqiah, panggil saja Qave. Aku asli dari Bugis, kalau kamu?” Tanya Qave balik kepada Sylfya. “Aku Sylfya Peggy, panggil saja Silvi. Ayahku dari Indonesia, ibuku dari Belanda. Tapi mereka sudah cerai, jadi aku tinggal dengan ayahku di sini.” Jawab Silvi yang mendadak menceritakan kisah keluarganya. “Maaf Silvi, aku tidak bermaksud untuk membuatmu mengingat masa lalu mu….”


“Ya, aku tahu.” Jawab Silvi singkat. Tidak lama, ia membuka pembicaraan kembali. “Kamu suka laut?” tanyanya.


“Ya. Sejak aku tidak lagi diperbolehkan untuk saling tatap dengan hujan, aku mulai menyukai laut. Keindahan pasir putihnya, Angin yang ditimbulkan oleh ombak, apalagi Alunan ombak yang sangat menyejukkan hati. Bagaimana kamu bisa tahu?”


“Ya, terlihat dari tatapan matamu Ve, kamu sangat menikmati laut ini. Seakan-akan kamu adalah satu-satunya makhluk hidup yang berada di laut ini. Lalu apa maksudmu dengan ‘tidak diperbolehkannya untuk saling tatap dengan hujan’?” Tanya Sylfya pada Qave.


“Tidak tahu. Aku tidak tahu.”






∞∞∞∞


Hari ini adalah hari pertama Qave memasuki sekolah di Padang. Setelah mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah, Qave segera mengambil tasnya dan memakai sepatu lalu mencium tangan ibunya. Qave tidak bisa bersalaman dengan ayahnya. Ayahnya berada di Bugis, jadi yang berada di Padang hanya Qave,ibu Qave, dan Raidy, adik Qave.


“Bu, aku berangkat sekolah dulu ya, Silvi sudah menungguku di luar.” Katanya, sambil mencium tangan ibu Qave. “Ya, hati-hati Ve. Ibu doakan yang terbaik untukmu.” Ucap ibu sambil mengusap tangan Qave.


Tiba di sekolah, Qave diantar ke kelas oleh Silvi. Sesampainya di kelas, Qave mencari-cari bangku kosong. Ya, yang tersisa hanya yang paling depan. Tiba-tiba saja ada satu orang laki-laki menghampirinya. “Kamu anak baru?” tanyanya pada Qave.


“Iya…”


“Oh, selamat datang di kelas XI IPA Padang ya, kenalkan, namaku Eidrit. Kalau kamu?” ucap Eidrit sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Qave. “Iya, terimakasih, namaku Kivaqiah. Panggil saja Qave, atau Kiva.” Jawabnya sambil menyambut uluran tangannya untuk bersalaman. Setelah bersalaman, ia melanjutkan pembicaraan. “Bangku kosong ada di paling depan, tidak apa-apa kan? Atau kamu duduk dengan ku, biar Devli duduk di depan.” Tawar Eidrit. “Tidak usah, aku duduk di depan saja. Penglihatanku juga kurang jelas.”






Tidak lama kemudian, bel berdering, menunjukkan bahwa pelajaran jam ke satu sampai dengan ke empat akan dimulai. Sebelum dimulai, seperti biasa, anak-anak berdiri untuk menyambut guru datang. Selama pelajaran berlangsung, Qave benar-benar tidak seratus persen memperhatikan guru. Qave melamuni segala hal yang ada di benaknya. Qave sendiri tidak tahu apa saja yang ia pikirkan. Entahlah, rasanya ada yang mengganjal di pikirannya.


Pulang sekolah pun tiba, Qave segera membereskan semua buku pelajarannya dan memasukkannya ke dalam tas lalu menggendong tasnya, membawanya keluar. Ketika kaki kanan Qave baru saja menginjak lantai di depan pintu kelas, tiba-tiba saja ada yang menepuk pundak Qave dari belakang. Dan ketika ia melihatnya ke arah belakang, oh..ternyata Eidrit. “Hai Ve! Kamu mau pulang dengan ku? Kebetulan hari ini aku tidak ada kegiatan apa-apa. Jadi untuk mengisi kegiatanku yang kosong, aku ingin mengantarmu pulang. Bagaimana?” ajak Eidrit kepada Qave. “Tidak usah, nanti kamu repot. Lagipula, aku bisa pulang bersama Silvi. Dia kebetulan tetanggaku. Sepertinya dia menungguku di gerbang sekolah.”


“Baiklah, lain kali kalau aku ajak, kamu harus mau ya!” ucap Eidrit sambil memperlihatkan wajah innocent-nya.


“Hari demi hari ku lewati di tempat tinggalku, dan sekolahku yang baru ini. Aku merasa sedikit ada kenyamanan di sini. Silvi, dia sudah ku anggap sebagai kakakku. Ia sangat baik dan perhatian denganku. Eidrit pun begitu, entah mengapa, rasanya Eidrit begitu perhatian, dan semakin hari semakin dekat denganku. Rasanya, ada perasaan liar yang mengeluarkan dirinya dari celah-celah hatiku. Aku tidak tahu perasaan apa itu…” ucap Qave dalam hati.


Hari Sabtu pun tiba. Hari di mana semua anak remaja sangat menyukainya, hari di mana anak remaja menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang di malam hari. Qave tidak seperti anak remaja lainnya yang menghabiskan waktu libur di Mall atau CafĂ©, Qave menghabiskan waktu liburnya di laut. Seperti biasa, Qave membawa jaket dan payung serta minuman. Kali ini tidak lagi dengan Silvi. Qave pergi sendirian, tidak ada yang menemani. Ketika ia duduk di pantai, menikmati seluruh fasilitas gratis pantai, (angin ombak,suara ombak, dan keindahan ombak), tiba-tiba saja seorang pria duduk di sampingnya. Yap, dia adalah Eidrit. Qave mengalihkan pandangannya kepada Eidrit yang duduk di sebelah kanannya. “Kamu Drit?” pertanyaan yang Qave ucapkan. Dan ia tahu, itu adalah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. “Menurut kamu? Ahahaha, kamu suka laut? Sejak kamu di sini, aku terus memperhatikan kamu. Kelihatannya kamu sangat menikmati ombak laut ini.” Ucap Eidrit yang menatap mata Qave dengan sangat polos. “Ya, begitu. Drit, kamu terlihat sangat baik ya. Jujur saja, entah mengapa, setiap kali kamu berada di dekatku, aku merasa nyaman.” Ucap Qave dengan tetap menikmati keindahan laut.


Mendengar ucapan Qave, Eidrit tersenyum. “Karena aku sayang sama kamu Ve. Tapi kamu baru menyadarinya.”


“Sayang? Maksud kamu?” Tanya Qave bingung.


“Kamu mau jadi pacarku Ve? Kita sudah kenal selama satu tahun Ve. Aku cukup mengenali karakter kamu luar dan dalam. Dan kamu cukup tau semua kekurangan dan kelebihanku. Aku rasa ini adalah waktu yang pas untuk menyatakan perasaanku sebenarnya.” Ucap Eidrit yang benar-benar membuat Qave tercengang. “Maaf Drit,.. ta---“ belum selesai berbicara, Eidrit sudah berbicara lebih dulu. “Aku tahu Ve. Kamu kaget dengan semua pernyataanku. Aku tidak memaksamu. Silahkan kamu pikirkan kembali.”


Waktu terus berjalan. Tidak ada yang dapat menghentikan perjalanan waktu. Ia akan terus berjalan, tidak peduli disaat yang bahagia datang, ataupun saat-saat sedih datang. Waktu akan terus berjalan tanpa henti. Waktu sama sekali tidak mengenal lelah. Tepat pada tanggal 26 Februari, waktu di mana Qave menjawab pernyataan Eidrit di laut. Tempat di mana yang menurut mereka adalah tempat yang dapat menghipnotis seluruh perasaan sedih menjadi tenang. Qave, yang memasukkan tangannya ke dalam kantung jaket, tampaknya sedang menunggu Eidrit. Ketika Eidrit tiba, Qave lalu menjawab pernyataan Eidrit. “Drit. Aku…..” ucap Qave terpatah-patah. “Aku….aku mau.” Jawab Qave gugup. “Bener Ve? Maaf Ve, aku tidak seromantis seperti apa yang kamu bayangkan. Tapi percayalah pada mata ku, beribu-ribu kata bahagia yang tertulis di mataku Ve. Aku bahagia. Terimakasih Ve.” Ucap Eidrit tersenyum bahagia.


Hari Senin pun tiba. Seperti biasa, siapa saja yang menjalin hubungan, teman sekelasnya akan segera mengetahui. Bahkan kelas lain pun akan mengetahuinya. Silvi, yang menjadi tetangga sekaligus teman sekolah Qave, tentu saja ia mendengar berita tentang Qave dan Eidrit.


“Selamat ya Ve..aku ikut bahagia mendengarnya…” ucap Silvi tersenyum lembut kepada Qave. “Terimakasih Silvi…” ucap Qave. Silvi hanya membalasnya dengan senyuman manis miliknya. Lalu pulang ke rumah dengan sendirinya tanpa Qave.


Qave merasa bingung dengan sikap aneh Silvi. Tiba-tiba saja Silvi berubah sikap dengan Qave. Tidak tahan penasaran, Qave mencoba menanyakannya pada Silvi di saat waktu luang yang tidak terpakai oleh aktivitas apapun.


“Sil?” sapa Qave kepada Silvi yang duduk di kursi meja belajarnya, sambil menatapi foto seorang laki-laki,dan seorang perempuan. Karena Silvi belum juga menjawab sapaan Qave, Qave pun mecoba untuk mendekati Silvi. Ketika ia mendekati Silvi, betapa terkejutnya hati Qave. Ia melihat foto Eidrit dengan Silvi di Laut, sangat mesra. Tidak lama kemudian, Silvi pun menyadari keberadaan Qave.


“Maaf Ve….” Ucap Silvi. Qave tidak menjawab. Qave benar-benar tidak sanggup berbicara. Ia sangat tertekan melihat foto yang berada di meja belajar Silvi. “Ve,dengarkan penjelasanku dulu! Eidrit hanya mantan ku saja!”


“Mantan Sil? Mantan..? lalu kenapa kamu masih menyimpan foto kalian berdua? Lalu kenapa kamu menangis? Dan kenapa kamu menghindar dariku Sil? Kenapa Sil? Jelasin sama aku!” ucap Qave, sambil menangis.


“Aku …. Aku masih…sayang sama Eidrit Ve….” Ucap Silvi tak kuat menahan tangis. Tanpa berbicara apapun, Qave berlari kecil keluar dari kamar Silvi. Ia pergi, dan masuk ke dalam taksi. Qave pergi, tidak lain dan tidak bukan ia pergi ke laut tempat ia mencurahkan dan menenangkan hatinya. Ia mencoba dan terus berusaha mengabaikan perasaan luka di hatinya, dan mencoba untuk menghentikan air matanya mengalir. Ia mencoba untuk menangkap suara ombak dengan tenang…..dan akhirnya pun berhasil. Tak lama, Eidrit datang menghampiri Qave. “Kenapa kamu menangis?” Tanya Eidrit kepada Qave sambil menghapus sisa air mata yang masih mengalir di pipi Qave. Belum sempat Qave menjawab, tiba-tiba saja muncul bunyi yang menyeramkan dari langit. Ya, bunyi petir, serta muncul tetes demi tetes air hujan. Qave, entah mengapa tiba-tiba saja muncul aliran darah dari hidungnya…bibirnya berubah menjadi pucat pasi. Eidrit yang berada di sebelahnya, jelas ia sangat panik. Ia segera membawa Qave pulang ke rumahnya, rumah Eidrit.


Sesampainya di rumah Eidrit, Eidrit segera merebahkan tubuh mungil Qave di atas kasurnya. Ia meminta tolong ibunya untuk mengurus Qave. Setelah darahnya berhenti mengalir, dan bibir Qave kembali merah seperti semula, Qave baru sadar bahwa ia berada di rumah Eidrit. Ia melihat Eidrit berada di sampingnya sambil memegang erat tangannya.


Keesokan harinya, Qave diantar pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Ibu Qave sangat mengkhawatirkan kondisi Qave. Setelah Qave menceritakan semuanya, ibunya semakin khawatir terhadap kondisi Qave. Eidrit, yang masih berada di samping Qave, tidak mengerti dengan ucapan Ibu Qave dan Qave. Beberapa saat kemudian, ibu Qave berkata, “Ve, ibu minta kamu jangan pernah ke laut lagi. Kamu di rumah saja bersama ibu, kamu cukup keluar untuk bersekolah.” Qave yang mendengar ucapan ibunya, tercengang, dan langsung membantah ucapan ibunya. “Aku engga mau bu! Aku capek bu diatur terus! Aku cukup sabar untuk tidak diperbolehkan bermain dengan air hujan, dan sekarang ibu melarang aku untuk bermain ke laut? Beri aku alasan ibu, beri aku alasan!” ucap Qave membantah, lalu pergi keluar rumahnya. Eidrit segera pergi dari rumah Qave, untuk mengejar Qave. “Ve, tolong jelasin sama aku. Kamu sebenarnya ada apa?” Tanya Eidrit bingung. “Kamu mau denger cerita aku Drit?” ucap Qave. “Tentu saja Ve. Aku pacarmu.”


“Drit…takut sama hujan, bukan berarti takut dengan air laut. Dari kecil, aku tidak diperbolehkan untuk bermain dengan air hujan. Padahal aku sangat menyukai air hujan…ia begitu senada dan searah dengan perasaan ku…entah mengapa, orang tuaku selalu melarang aku untuk bertemu dengan hujan. Dan mereka tidak memberi tahuku alasan sedikitpun. Yang kurasakan saat hujan datang…….hmm…setiap kali hujan datang, aku selalu merasa kedinginan, hidungku berdarah, dan bibir ku berubah menjadi pucat pasi.. apa itu ada kaitannya dengan hujan? Orang tuaku membuat ku takut dengan hujan. Orang tuaku tidak berhak menyalahkan hujan. Hujan….yang sama sekali tidak berdosa, namun harus selalu disalahkan. Dulu, aku sempat dirawat di rumah sakit, waktu itu ketika hujan datang, tiba-tiba saja kepalaku menjadi pusing…disusul dengan hidungku yang mengeluarkan darah-darah tak berdosa..dan bibirku menjadi pucat… dan setelah aku dibawa ke dalam rumah sakit, sulit sekali bagiku untuk membuka mata seperti manusia normal lainnya..di balik lubang mataku yang kecil itu…aku melihat ibuku. Ia sedang menangis. Lalu aku bertanya padanya, ‘mengapa setiap kali hujan terjadi, aku menjadi seperti ini bu? Aku tak lagi normal..’ dan, ibuku menjawab ‘ Ketika hujan datang, dan kamu mejadi seperti ini, langit itu menangis sayang…langit sedih dengan melihat kondisimu yang seperti ini..bangkitlah sayang..kamu pasti bisa sembuh.. jadi… yah, ini saja yang ingin ku ceritakan..” ucap Qave setelah ia menceritakan pengalamannya di masa lalu kepada Eidrit. “Aku sayang kamu Ve.” Tiba-tiba saja Eidrit mengucapkan kalimat itu pada Qave, spontan pula ia memeluk perempuan yang ia panggil Qave tersebut. Pelukannya sungguh hangat, dan rasanya tak perlu lagi Qave menggunakan jaket yang ia kenakan. “Maaf Drit…kita udahan aja…” ucap Qave. Tak kuat menahan sedih, keluarlah sang peri kecil….mengalir di sekitar wajah mulus sang putri….ia mengalir dengan derasnya….tak satupun penyihir yang dapat mengalahkan derasnya aliran peri….


“Ve? Kamu bercanda kan? Aku sayang sama kamu Ve! Aku cinta sama kamu….apa maksud kamu? Jelasin Ve..beri aku alasan….”


“Maaf Drit… aku baru sadar….kita beda arah…untuk selamanya. Anggap saja Kamu pergi ke Utara, tapi aku malah ke Selatan…” ucap Qave, berselang-seling dengan isak tangisnya..


“Kamu salah Ve! Kalau kamu terus berjalan lurus ke Selatan tanpa melihat ke belakang, kamu akan bertemu dengan ku Ve! Aku yang menunggumu di Utara.”


“Tapi bagaimana kalau kamu ikut berjalan? Kita tidak akan pernah bertemu Drit!” bantah Qave…


“Kita pasti akan bertemu Ve, aku akan mengejarmu”. Ucap Eidrit meyakinkan Qave. “Drit. Kamu berpikir seolah-olah bumi ini berbentuk persegi. Tidak Drit! Bumi ini masih dan tetap bulat. Kalau kamu ikut pergi, sangat jelas kita tidak akan bertemu untuk selamanya…kita hanya berputar dengan tiada arti..layaknya orang bodoh…” bantah Qave lagi, dan lagi…


“Kamu percaya denganku, atau bumi yang bulat ini Ve?”


“Aku tidak tahu Drit…harus percaya denganmu, orang yang aku sayang…atau dengan hati kecilku yang tidak pernah bohong padaku…”


“Kita…cukup sampai di sini saja Drit…seseorang sedang menantimu di sana…aku pamit yah….” Pamit Qave…sambil melangkahkan kakinya, menjauh dari Eidrit, dan duduk di tepi pantai….waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam…Qave tidak menghiraukannya… ia terus duduk dan berusaha menenangkan hatinya dengan mendengarkan bunyi ombak…menghirup bau ombak…dan merasakan angin yang ditimbulkan oleh arus laut….namun semuanya gagal…ia benar-benar tidak dapat menahan segalanya..Qave tak dapat menahan air matanya….


Eidrit, mencoba mengikuti apa yang Qave inginkan… sebelum pergi, Eidrit mengucapkan beberapa kalimat pada Qave… “Jaga diri baik-baik ya Ve, aku akan sama seperti hujan kalau kamu tidak menjaga kondisimu… aku sayang kamu Ve..”


Lambat laun….. muncullah suara petir….suara di mana seseorang yang seperti Qave sangat membencinya…namun kali ini, Qave tak memperdulikan suara yang dapat menyebabkan resiko yang berbahaya pada dirinya…ia terus duduk..dan mencoba untuk tenang…tak lama kemudian….. hidungnya pun mengeluarkan darah-darah yang sama sekali tak berdosa….disusul dengan bibirnya yang berubah menjadi pucat pasi.. tiba-tiba…datanglah seorang malaikat…dengan wajah sedihnya, dan berlinang air mata…ya..dia adalah ibu Qave…. Ia segera membawa Qave ke rumah sakit terdekat….namun ini nyatanya…sedih rasanya..dimana kenyataan tak sesuai dengan harapan..tak sesuai dengan mimpi.. Qave telah kembali kepada yang Kuasa…. Ibu,Ayah, dan Adik Qave…tak kuat menahan rasa sedih…mereka pun kembali ke Bugis…ke tempat dimana kenangan indah bersama Qave dibuatnya…






Lima tahun kemudian… Eidrit yang sama sekali tidak mengetahui tentang Qave….berada di Bandung, dan tepat pada pukul 04:00 sore…ia menatap keindahan ombak, merasakan angin yang disebabkan oleh ombak…dan menikmati alunan ombak…sambil berkata.. “Seandainya kamu memberitahuku alasanmu Ve……aku menyayangimu…..”………..









SELESAI

#2 :')

Sakit memang ketika Qalin mengetahui bahwa Delon menjauhi dirinya hanya karena ia sudah memiliki seorang kekasih. Rasa-rasanya, entah Qalin dianggap sebagai apa. datang dan pergi dengan begitu mudahnya, layaknya arus ombak, datang dan pergi dengan sesuka hatinya, tak peduli bahwa ada seseorang yang sedang menikmatinya ketika sang arus datang. Qalin selalu mencoba untuk menenangkan dirinya. mencoba untuk melupakan segalanya. namun itu semua tak bisa ia lakukan. dan mulai pada hari itu juga, ia berkata bahwa ia untuk pertama kalinya merasakan jatuh cinta. Hari demi hari....ia terus lewati penuh dengan tekanan batin. Pernah sekali ia mencoba untuk menyapa Delon..namun apa jawaban Delon? ya, ia terus menjauhi Qalin. 

Saturday, January 25, 2014

#1 :')

Hai blogger! apa kabar kalian semua? semoga baik-baik aja ya :). hari ini aku mau nulis cerita, singkat dan pendek. ehem, mulai aja ya? sip..

Hem, Pada saat Qalin mulai memasuki jenjang SMA 1, tanpa disadari ia juga mulai menyukai kakak kelasnya, yaitu Delon, yang tanpa disangka pula Delon pernah menyukai salah seorang teman dari Qalin. Dulu, Qalin sangat akrab dengan Delon. namun hanya sebatas teman curhat tentang temannya. Tingkah mereka berdua sangat kekanak-kanakan. terutama Qalin. yang sama sekali tak mengerti apa itu cinta, apa itu patah hati, dan apa itu pacar. keakraban mereka pun berhenti ketika teman Qalin sudah pindah ke sekolah lain. Lambat laun dengan seiring berjalannya waktu, kedekatan mereka mulai sedikit berbeda. tidak seperti biasanya, yang selalu bertingkah konyol satu sama lain. Mulai canggung ketika bertemu, dan mulai merasakan jantung berdebar ketika bertemu, terutama untuk Qalin. ia sama sekali tak mengerti apa yang ia rasakan. hari demi hari ia terus lewati dengan sendirinya. memikirkan hal-hal aneh yang terjadi pada Delon dan dirinya. Setiap hari-nya, mereka sangat akrab, saling pengertian dan sama sekali tidak ada lagi tindakan konyol mereka. Satu tahun sudah mereka lewati, dan rasa 'tak mengerti' Qalin pun sudah terpecahkan ketika ia mulai putus hubungan dengan Delon. Berbulan-bulan ia mencari tahu apa penyebab Delon menjauhi Qalin. dan........rasa penasaran itu terjawab sudah ketika ia melihat Delon jalan bersama seorang perempuan, yang ternyata sudah menjadi kekasih Delon. di situlah dimana Qalin menyadari semuanya. Menyadari bahwa ia ternyata mencintai Delon...

Friday, March 29, 2013

ZIARAH: Lomba Baca Puisi dan Menulis Surat Untuk Nabi Muha...

ZIARAH: Lomba Baca Puisi dan Menulis Surat Untuk Nabi Muha...: AQIDAH FILSAFAT FAIR 2012 “Meneladani Sosok Muhammad SAW dengan Berkarya dan Berbagi antar sesama” Senin-Senin | 21—28 Mei 2012 | Au...

Saturday, March 16, 2013

I don't like waiting, but if waiting means having you, then I will wait until I have you..